‘’Ceritakan kisah aneh yang sudah aneh kek’’ pinta Tiwi
sebelum tidur. Sorot mata kakeknya menerawang. Dimulalah cerita itu.
Di atas gedung pencakar langit, awan menggumpal menjadi
hitam pekat, menciptakan air, menurunkan hujan. Gedung berlantai 145 itu
diguyur hujan lebat, mengalir membasahi lapisan bumi jantung kota.
‘’gawat, pak!’’ kata sekretaris perusahaan itu lewat telpon tiba-tiba.
‘’gawat bagaimana?’’
‘’lantai paling atas acak-acakan. Arsip dan brankas banyak
yang sobek dan rusak.
‘’oke, ke sini saja kamu!’’
Sekretaris itu setengah berlari ke ruang bosnya.
‘’tok...tok...’’
‘’Masuk! Apa penyebabnya?’’ tanya bos itu seperti gusar
benar.
‘’Tikus pak’’
‘’Tikus, hannya tikus?’’
‘’Iya, tikus. Karyawan bilang, lantai atas tiba-tiba diserbu
tikus’’
‘’Banyak?’’
‘’Tentu banyak pak. Namanya juga diserbu. Oh ya, clening
servise dan seluruh security sudah di kerahkan, namun tetap pentungannya tidak
bisa mengusir tikus-tikus itu’’
Bos bertubuh tanbun itu mondar-mandir seraya berfikir apa
yang terjadi. Ia perhatikan kursi jabatannya dengan seksama. Ada gurat
kekhawatiran di wajahnya. Suasana aman
di gedung itu terganggu, terutama di lantai paling atas. Memang tikus-tikus
seperti menteror penghuninya. Para karyawan takut dan cemas, karena tikus-tikus
itu tidak pernah di ketahui sebelumnya. Ukuran tak sama dengan tikus pada
umumnya. Inilah yang kelihatan aneh dan langka, selain masih banyak lagi
perdebatan dengan tikus-tikus di luar. Semua karyawan baik laki-laki ataupun
perempuan meringis dan tidak ada yang berani mengusir.
‘’Busyet! Semakin gawat bos’’ lapor kepala security yang
nyelonong masuk ke ruang bosnya.
‘’Tikusnya tambah banyak. Sekarang nyebar kelantai 17’’
‘’Berarti sebentar lagi merambah ke sini dong. Hi.... !’’
ucap sekertaris itu meringis dan geli.
Kedua mata presedirnya melirik tingkah sekertarisnya.
‘’Gimana bos? Semua karyawan sudah enggak tahan. Mereka
semua sudah mencak-mencak’’ kata kepala security lagi, mendesak bosnya agar
segera mengambil kebijakan.
‘’Hentikan aktivitas, gitu?’’
‘’Iya Bos, sebelum tikus-tikus itu lenyap’’ presedir itu
mengangguk setuju, semua karyawan diliburkan. Kemudian para karyawan itu
dengan terpaksa harus pulang, meski
hujan di luar belum reda benar. Dalam perjalanan mereka saling bertanya cerita
tikus-tikus itu.
‘’Tikusnya aneh-aneh. Badannya besar-besar dan warnanya
macam-macam. Sebenarnya sih lucu kalau
dilihat, karena kayak boneka’’
‘’Seperti Micky Mouse?’’ potong yang lain dengan pertanyaan
karena penasaran.
‘’Subhanallah! Iya betul. Tikus-tikus itu kayak Micky Mouse,
yang di lehernya melingkar kalung yang mirip sebuah dasi. Tapi tikus yang ini
ganas, lho! Bayangkan, selain makan daging dan ikan ia juga suka melahap
kertas-kertas seperti kecoak. Pokoknya langka deh’’
‘’Waladalah, dasar tikus kota!’’
***
Dirumahnya yang megah, direktur perusahan itu termenung
sendiri. Setang cerutu yang di apit dua jari kirinya. Boleh jadi ia nervous,
khawatir perusahaannya bangkrut. Kisah wabah tikus di perusahaannya sudah banyak yang tahu, media informasi
menyebarkannya. Maka wajar bila orang-orang terutama pihak asing menanam saham
lagike dalam perusahaannya, semuanya
takut rugi. Maklum, seluruh ruangan perusahaan itu sudah dipenuhi tikus. Barang
–barangpun hanya sedikit yang terselamatkan. Sudah terlalu lama mungkin
tikus-tikus itu bersarang disana. Di tengah kegalauan dan kebingungan bos dan
serta seluruh karyawan perusahaan itu, tiiba-tiba ada yang menjadi juru selamat
kayaknya ratu adil yang datang disituasi yang tepat.
‘’Oke! Apa yang bisa anda lakukan?’’
‘’Kami hanya ingin menolong, dan berusaha semaksimal
mungkin, selebihnya kami serahkan pada tuhan’’ ucapnya datar.
‘’Kami memiliki racun terbaik made in Amerika dan Swiss’’
lanjutnya
‘’Taukah anda kalau tikusnya ganas dan rakus?’’
‘’Hemm!’’
‘’Baiklah jika begitu. Kami trima tawaran Anda’’ ucap
menejer perusahaan itu diselingi rasa ragu.
***
Di hari yang ditentukan, gedung pencakar langit itu dikepung
personil pemadam kebakaran. Tapi kali ini tugas mereka memadamkan api tikus
yang semakin berkobar, mewabah di setiap sudut ruang itu. Otomatis bahan yang
mereka gunakan bukan air, melainkan racun tikus yang bermerek IMF. Namun ajaib
yang terjadi, setelah racun itu disemprotkan, tikus-tikus itu bukan malah
kalang-kabut dan mati. Tikus-tikus itu seakan menemukan oase di padang gersang.
Mereka, para tikus meminum racun itu, haus sekali kelihatannya. Ternyata
tikus-tikus itu sudah kebal , benar-benar bengal dan tak kenal kenyang. Ulah
tikus-tikus sudah keterlaluan. Entah tersimpan dimana barang –barang yang masuk
ke dalam perutnya?. Hal yang tak masuk akal bagi para karyawan dan seluruh staf
perusahaan itu. Menjengkelkan, bikin kesal karena telah membuat mereka
menganggur, padahal mereka butuh makan.
Demikian yang terjadi wabah tikus membuat para karyawan itu
kehilangan pekerjaan. Mereka harus di PHK, harapan bagaikan sirna ditelan
kebiadaban dan kerusakan, perusahaan itu hampir gulung tikar akibat hutang luar
negeri yang sedianya untuk mengembangkan usaha tak terbayar, ditambah bantuan
kemanusiaan yang non sense dan omong kosong belaka. Guna mengusir tikus
katanya, mata dunia menyorotinya. Semua dunia tahu, perusahaan yang telah berkembang
itu dapat malapetaka, sendrom di perusahaan itu sering jadi wacana pers
internasional. Dahsyat!
***
Inisiatif demi inisiatif
telah direalisa sikan guna memberangus tikus-tikus itu, tak pernah
diperoleh hasil maksimal, dan akhirnya di temukan solusi alternatif yaitu
dengan mengumpulkan kucing-kucing agar dapat memangsa tikus-tikus. Dalam rapat
akbar yang agendanya ‘’menumpas tikus hingga tuntas’’, ada salah satu pimpinan
perusahaan cabang yang mengusulkan agar kucing saja yang menumpasnya, selama
ini memang tikus-tikus paling terkenal takut sama kucing.
Dalam rapat akbar tersebut ada perhelatan memanas ketika
kucing menjadi sebuah usulan. Boleh jadi
karena tikus-tikus itu telah menjamur ke perusahaan cabang yang tersebar
di ibu kota propensi, kabupaten bahkan sampai ke agen yang ada di desa-desa.
Tentang kemampuan kucing-kucing itu banyak di
ragukan, melihat sindrom tikus yang semakin mewabah dan ganas saja.
Walau, toh akhirnya setuju semua.
***
Beribu-ribu kucing terkumpul
sudah. Kucing-kucing itu diberi makan secukupnya agar memiliki tenaga
dan mampu melumat tikus-tikus itu. Sengaja memang. Jika nanti terlalu kenyang
dikhawatirkan kucing itu malas melaksanakan tugas.
‘’Bagaimanapun percobaan kita harus berhasil’’ ucap kepala
security. Tangannya terkepal.
‘’Tapi jangan lupa berdoa pada yang kuasa pak’’. Kata
bawahannya, mencoba menasehati.
‘’Diam kau! Sompret’’.
‘’Siap!’’ eksperimenpun dilaksanakan. Serempak kucing-kucing
dilepas. Lantas kucing-kucing itu merangsek ke seluruh penjuru yang dapat dilalui
tikus. Kucing-kucing itu mengepung gedung itu. Tikus-tikus tau kucing datang.
Tanpa sebuah komando semua tikus itu bersembunyi, lantas lari terbirit-birit.
Kucing pun berlari-lari mengejar tikus itu. Tikus menghilang sembunyi.
Semua tampak puas akan kinerja kucing. Eksperimen pertama di
anggap berhasil. Setelah 3,2 bulan terakhir. Tidak ada lagi tikus-tikus itu.
Gedung itupun dibersihkan kembali, ditata lagi seperti semula, seperti
kertas-kertas yang berserakan dan........
‘’Terus kisah kejar-kejaran antara tikus dan kucing?’’
potong Tiwi penasaran. Tikus itu berusaha menyelamatkan diri dari kejaran
kucing. Tikus-tikus melompat-lompat dan berlari terus, hingga sampailah mereka
ditengah-tengah sungai yang kotor. Tikus-tikus itu berenang di sana. Senang
sekali sepertinya mereka berkelit di sana dari serbuan kucing. Sementara sang
kucing siap siaga berjaga di tepi sungai. Mulut kucing-kucing itu menganga
menampakkan taring-taringnya seperti hendak menerkam, melumat apa saja yang
berada di depannya. Sayangnya kucing paling takut berenang.
‘’Begitulah’’ jawab sang kakek singkat. Kemudian kedua mata
Twi terpejam. Dalam bunga tidurnya ia melihat tikus-tikus itu telah tiada,
dimakan usia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar