Categories

Senin, 13 Januari 2014

Balada Kucing & Tikus



‘’Ceritakan kisah aneh yang sudah aneh kek’’ pinta Tiwi sebelum tidur. Sorot mata kakeknya menerawang. Dimulalah cerita itu.
Di atas gedung pencakar langit, awan menggumpal menjadi hitam pekat, menciptakan air, menurunkan hujan. Gedung berlantai 145 itu diguyur hujan lebat, mengalir membasahi lapisan bumi jantung kota.
‘’gawat, pak!’’ kata sekretaris perusahaan itu lewat telpon tiba-tiba.
‘’gawat bagaimana?’’
‘’lantai paling atas acak-acakan. Arsip dan brankas banyak yang sobek dan rusak.
‘’oke, ke sini saja kamu!’’
Sekretaris itu setengah berlari ke ruang bosnya.
‘’tok...tok...’’
‘’Masuk! Apa penyebabnya?’’ tanya bos itu seperti gusar benar.
‘’Tikus pak’’
‘’Tikus, hannya tikus?’’
‘’Iya, tikus. Karyawan bilang, lantai atas tiba-tiba diserbu tikus’’
‘’Banyak?’’
‘’Tentu banyak pak. Namanya juga diserbu. Oh ya, clening servise dan seluruh security sudah di kerahkan, namun tetap pentungannya tidak bisa mengusir tikus-tikus itu’’
Bos bertubuh tanbun itu mondar-mandir seraya berfikir apa yang terjadi. Ia perhatikan kursi jabatannya dengan seksama. Ada gurat kekhawatiran di  wajahnya. Suasana aman di gedung itu terganggu, terutama di lantai paling atas. Memang tikus-tikus seperti menteror penghuninya. Para karyawan takut dan cemas, karena tikus-tikus itu tidak pernah di ketahui sebelumnya. Ukuran tak sama dengan tikus pada umumnya. Inilah yang kelihatan aneh dan langka, selain masih banyak lagi perdebatan dengan tikus-tikus di luar. Semua karyawan baik laki-laki ataupun perempuan meringis dan tidak ada yang berani mengusir.
‘’Busyet! Semakin gawat bos’’ lapor kepala security yang nyelonong masuk ke ruang bosnya.
‘’Tikusnya tambah banyak. Sekarang nyebar kelantai 17’’
‘’Berarti sebentar lagi merambah ke sini dong. Hi.... !’’ ucap sekertaris itu meringis  dan geli. Kedua mata presedirnya melirik tingkah sekertarisnya.
‘’Gimana bos? Semua karyawan sudah enggak tahan. Mereka semua sudah mencak-mencak’’ kata kepala security lagi, mendesak bosnya agar segera mengambil kebijakan.
‘’Hentikan aktivitas, gitu?’’
‘’Iya Bos, sebelum tikus-tikus itu lenyap’’ presedir itu mengangguk setuju, semua karyawan diliburkan. Kemudian para karyawan itu dengan  terpaksa harus pulang, meski hujan di luar belum reda benar. Dalam perjalanan mereka saling bertanya cerita tikus-tikus itu.
‘’Tikusnya aneh-aneh. Badannya besar-besar dan warnanya macam-macam.  Sebenarnya sih lucu kalau dilihat, karena kayak boneka’’
‘’Seperti Micky Mouse?’’ potong yang lain dengan pertanyaan karena penasaran.
‘’Subhanallah! Iya betul. Tikus-tikus itu kayak Micky Mouse, yang di lehernya melingkar kalung yang mirip sebuah dasi. Tapi tikus yang ini ganas, lho! Bayangkan, selain makan daging dan ikan ia juga suka melahap kertas-kertas seperti kecoak. Pokoknya langka deh’’
‘’Waladalah, dasar tikus kota!’’

***

Dirumahnya yang megah, direktur perusahan itu termenung sendiri. Setang cerutu yang di apit dua jari kirinya. Boleh jadi ia nervous, khawatir perusahaannya bangkrut. Kisah wabah tikus di perusahaannya  sudah banyak yang tahu, media informasi menyebarkannya. Maka wajar bila orang-orang terutama pihak asing menanam saham lagike dalam  perusahaannya, semuanya takut rugi. Maklum, seluruh ruangan perusahaan itu sudah dipenuhi tikus. Barang –barangpun hanya sedikit  yang  terselamatkan. Sudah terlalu lama mungkin tikus-tikus itu bersarang disana. Di tengah kegalauan dan kebingungan bos dan serta seluruh karyawan perusahaan itu, tiiba-tiba ada yang menjadi juru selamat kayaknya ratu adil yang datang disituasi yang tepat.
‘’Oke! Apa yang bisa anda lakukan?’’
‘’Kami hanya ingin menolong, dan berusaha semaksimal mungkin, selebihnya kami serahkan pada tuhan’’ ucapnya datar.
‘’Kami memiliki racun terbaik made in Amerika dan Swiss’’ lanjutnya
‘’Taukah anda kalau tikusnya ganas dan rakus?’’
‘’Hemm!’’
‘’Baiklah jika begitu. Kami trima tawaran Anda’’ ucap menejer perusahaan itu diselingi rasa ragu.

***

Di hari yang ditentukan, gedung pencakar langit itu dikepung personil pemadam kebakaran. Tapi kali ini tugas mereka memadamkan api tikus yang semakin berkobar, mewabah di setiap sudut ruang itu. Otomatis bahan yang mereka gunakan bukan air, melainkan racun tikus yang bermerek IMF. Namun ajaib yang terjadi, setelah racun itu disemprotkan, tikus-tikus itu bukan malah kalang-kabut dan mati. Tikus-tikus itu seakan menemukan oase di padang gersang. Mereka, para tikus meminum racun itu, haus sekali kelihatannya. Ternyata tikus-tikus itu sudah kebal , benar-benar bengal dan tak kenal kenyang. Ulah tikus-tikus sudah keterlaluan. Entah tersimpan dimana barang –barang yang masuk ke dalam perutnya?. Hal yang tak masuk akal bagi para karyawan dan seluruh staf perusahaan itu. Menjengkelkan, bikin kesal karena telah membuat mereka menganggur, padahal mereka butuh makan.
Demikian yang terjadi wabah tikus membuat para karyawan itu kehilangan pekerjaan. Mereka harus di PHK, harapan bagaikan sirna ditelan kebiadaban dan kerusakan, perusahaan itu hampir gulung tikar akibat hutang luar negeri yang sedianya untuk mengembangkan usaha tak terbayar, ditambah bantuan kemanusiaan yang non sense dan omong kosong belaka. Guna mengusir tikus katanya, mata dunia menyorotinya. Semua dunia tahu, perusahaan yang telah berkembang itu dapat malapetaka, sendrom di perusahaan itu sering jadi wacana pers internasional. Dahsyat!

***

Inisiatif demi inisiatif  telah direalisa sikan guna memberangus tikus-tikus itu, tak pernah diperoleh hasil maksimal, dan akhirnya di temukan solusi alternatif yaitu dengan mengumpulkan kucing-kucing agar dapat memangsa tikus-tikus. Dalam rapat akbar yang agendanya ‘’menumpas tikus hingga tuntas’’, ada salah satu pimpinan perusahaan cabang yang mengusulkan agar kucing saja yang menumpasnya, selama ini memang tikus-tikus paling terkenal takut sama kucing.
Dalam rapat akbar tersebut ada perhelatan memanas ketika kucing menjadi sebuah usulan. Boleh jadi  karena tikus-tikus itu telah menjamur ke perusahaan cabang yang tersebar di ibu kota propensi, kabupaten bahkan sampai ke agen yang ada di desa-desa. Tentang kemampuan kucing-kucing itu banyak di  ragukan, melihat sindrom tikus yang semakin mewabah dan ganas saja. Walau, toh akhirnya setuju semua.

***

Beribu-ribu kucing terkumpul  sudah. Kucing-kucing itu diberi makan secukupnya agar memiliki tenaga dan mampu melumat tikus-tikus itu. Sengaja memang. Jika nanti terlalu kenyang dikhawatirkan kucing itu malas melaksanakan tugas.
‘’Bagaimanapun percobaan kita harus berhasil’’ ucap kepala security. Tangannya terkepal.
‘’Tapi jangan lupa berdoa pada yang kuasa pak’’. Kata bawahannya, mencoba menasehati.
‘’Diam kau! Sompret’’.
‘’Siap!’’ eksperimenpun dilaksanakan. Serempak kucing-kucing dilepas. Lantas kucing-kucing itu merangsek ke seluruh penjuru yang dapat dilalui tikus. Kucing-kucing itu mengepung gedung itu. Tikus-tikus tau kucing datang. Tanpa sebuah komando semua tikus itu bersembunyi, lantas lari terbirit-birit. Kucing pun berlari-lari mengejar tikus itu. Tikus menghilang sembunyi.
Semua tampak puas akan kinerja kucing. Eksperimen pertama di anggap berhasil. Setelah 3,2 bulan terakhir. Tidak ada lagi tikus-tikus itu. Gedung itupun dibersihkan kembali, ditata lagi seperti semula, seperti kertas-kertas yang berserakan dan........
‘’Terus kisah kejar-kejaran antara tikus dan kucing?’’ potong Tiwi penasaran. Tikus itu berusaha menyelamatkan diri dari kejaran kucing. Tikus-tikus melompat-lompat dan berlari terus, hingga sampailah mereka ditengah-tengah sungai yang kotor. Tikus-tikus itu berenang di sana. Senang sekali sepertinya mereka berkelit di sana dari serbuan kucing. Sementara sang kucing siap siaga berjaga di tepi sungai. Mulut kucing-kucing itu menganga menampakkan taring-taringnya seperti hendak menerkam, melumat apa saja yang berada di depannya. Sayangnya kucing paling takut berenang.
‘’Begitulah’’ jawab sang kakek singkat. Kemudian kedua mata Twi terpejam. Dalam bunga tidurnya ia melihat tikus-tikus itu telah tiada, dimakan usia.


               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar