Categories

Kamis, 09 Januari 2014

Catatan harian suami Buat istri tercinta



Siang itu, matahari bersinar terik. Kemarau panjang yang berlangsung sekitar lima bulan, dengan angkuh membakar bumi. Pohon-pohon banyak yang meranggas kekurangan air. Bunga-bunga yang menyejukkan pandangan kini mulai layu. Dan deru mobil-mobil mewah tak tahu aturan melaju begitu saja tanpa menoleh pada anak-anak jalanan yang sedang kehausan. Sebuah kekejaman yang kembali menorehkan luka di hati si miskin-papa. Hingga kesenjangan social yang terjadi, laksana jurang yang dalam di lereng gunung.
"Assalamu'alaikum…"
"Oh Dedy…, good afternoon…"
Selalu itu…yang dia ucapkan untuk menjawab salamku. Mengapa istriku sudah berubah demikian jauh, padahal aku selalu protected untuk hal-hal modern yang tak sesuai dengan ajaran dan budaya Islam. Kucoba untuk bersabar mendengar jawaban istriku untuk yang kesekian kalinya, walaupun ingin rasanya aku marah. Ingin aku lontarkan semua apa yang ada di dalam hatiku. Hingga akhirnya kata-kataku terlepas begitu saja…
"Emang nggak ada yang lain untuk menjawab salamku?!"
Yach, mami hanya ingin mengikuti perkembangan zaman saja, dedy…., mami melihat teman-teman mami sesame istri pejabat setingkat dady kalau mengucapkan salam kepada suaminya demikian. Jadi apa salahnya bila mami mencobanya pada papi…"
 ”But I don't want all are changed. No better way than Islamic way, my darling. So please, don't continue what you have done after this…"
"Ah udah… udah …, masalah itu saja yang kamu permasalahkan. I think there is not something wrong. And also there is not a principle problem."
 Huh…, kurebahkan badanku di sofa ruang tamu. Lama aku tengadahkan kepalaku pada langit-langit rumahku. Ada sesak menyeruak ke dalam dadaku mengingat kejadian yang bara saja terjadi. Sebuah berbedaan kecil yang menurutku cukup prinsipil. Namun entahlah sampai kapan ini semua akan berakhir…
  Baru sakitar lima menit aku tenggelam dalam lamunanku, terdengar langkah kaki istriku mendekat. Dengan berbalut blazer ketat berwarna merah muda, depadu dengan jilbab transparan berwarna jingga dan celana kain kitat yang nampak modis, perlahan mendekat menghampiriku.
 "Abi…, aku ada meeting dengan kolega bisbis. Aku pamit, mungkin sekitar jam sepuluh malam aku baru kembali."
Tertegun aku mendengar ucapannya. Bukan karena permintaan izinnya yang  memberatkan hatiku. Namun cara berpakaian istriku sudah mulai asing dariku. Semakin jauh, hingga aku tak dapat mengenalinya lagi. Belum sempat aku menjawab permintaan izinnya, kaki beralas sepatu dengan hak tinggi itu, sudah menjauh dari hadapanku. Bunyi hak sepatu yang beraturan seakan hentakkan jarum yan gyeratur menusuk-nusuk dagingku.
  "Kreieeeeeet…", suara pintu rumahku terdengar terbuka. Dan istriku mulai keluar sebelum ia mendengar jawabanku. Semuanya telah berubah.

***
Tumpukan buku di meja kerjaku berserakan tak terurusi. Catatan pinggir Goenawan Muhammad, inspiratorku menulis nampak kumal, seperti buku sisa-sisa zaman Renaisanse. Mushaf usang, hadiah dari istriku saat aku ulang tahun pertama setelah kita menikah, selalu menjadi penghibur kekalutanku saat ini. Hingga mushaf setebal tiga inci itu berubah menjadi lima inci oleh deraian air maraku. Dipojok meja kerjaku, masih terpampang foto belahan jiwaku, istriku. Foto saat pertama kali aku menaruh hati padanya, tujah tahun yan gsilam. Namun foto itu kini telah berubah. Aku seperti tidak mengenalnya lagi. Dna keterasinganku dengan orang yang aku cintai membuatku pergi meninggalkan rumah. Aku jengah. Aku bosan. Sudah seminggu aku tidak pulang ke rumah. Aku ingin mencari dan merenungkan, mengapa semuanya telah berubah.
  Lama kupandangi diary merah muda, tempat aku menulis segudang obsesiku semenjak aku menikah. Sudah ribuan kata-kata tertuang di dalamnya. Mulai assa indahnya bulan madu dengan istriku, berangan-angan memiliki anak selusin sampai pertengkaran kecil yan gterjadi antara aku dan dirinya. Hingga kemudian seperti ada kekuatan yan gmendorongku untuk meraih dan membacanya kembali. Lembar demi lembar kubuka catatan harianku. Hiingga tatapanku terpaku pada tulisan berwarna biru di tahun kedua aku menikah:
  Jakarta, 15 Mei 2007
Tuhan,…
Keadilan-Mu kembali hadir di bahtera rumah tangga kami…
Walaupun hanya makan berlauk temped an sayur lodeh buatan istriku yang terkadang rasanya terlalu asin, namun ada kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri hidup didampinginya. Berapapun uang belanja yang aku berikan kepadanya, ia terima dengan senyuman. Terima kasih tuha, kau telah anugrahkan kepadaku istri sebaik dia…
 Namun setelahmakan malam, demalam yang sedang hujan gerimis itu, sambil memijit punggungku yang kelelahan bekerja, dengan manja ia berkata padaku…
  "Abi, jubahku udah mulai kekecilan untuk ukuran tubuhku. Sekarang saja sudah sampai mata kakiku. Dan juga, jilbabku sudah robek diatasnya. Kalau Abi diberikan rizki lebih oleh Allah, aku dibelikan jubah dan jilbab yang baru ya…"
  Mendengar kata-katanya yan gterakhir ini, hatiku seakan menjerit
"Oh Tuhan berikan aku kemampuan untuk membahagiakannya…"
Buliran air mataku menitik, membentuk lingkaran noktah di diaryku…
 
  Bayanganku tenggelam menuju lima tahun yang silam. Saat itu, setelahkami sama-sama diwisuda, kami mencoba untuk hidup mandiri membina bahtera rumah tangga. Walaupun hanya menempati rumah kpntrakan ukuran 5 x 8, namun ditemani istri yang sholihah, rasanya rumah seukuran tersebut merupakan villa mewah di tengah taman nan indah.
  Namun setelah semuanya berubah. Setelah aku menjadi salah satu anggota legislative propinsi Jawa Barat, setelah dia juga menjadi istri pejabat yang juga harus bergaul dengan sesame istri pejabat, semuanya telah berubah. Hingga aku merindukan kembali saat-saat seperti dulu lagi, bahkan seperti ketika kita menempati gubuk ukuran 5 x 8. aku  sangat merindukan kembalinya jubah dan jilbab yang selalu menyejukkan bila kupandang, walaupun warnanya telah pudar. Aku merindukan tetesan-tetesan embun pagi pada kelopak mawar merah yang sedang merekah dipanasnya terik matahari. Tuhan aku sangat merindukan saat-saat tersebut.
    Suara adzan dzuhur menggema membuyarkan lamunanku. Takterasa sudah tiga jam aku duduk merenungi saat-saat indah bersama istriku dulu. Bergegas aku menuju kamar mandi apartement yang aku tempati. Guyuran air wudhu' menyapu mukaku meruntuhkan dosa-dosa yan gsiang tadi hinggap di pelupuk mataku. Aku bersimpuh di hadapan tuhanku, kupanjatkan doa "Oh Tuhan…, aku merindukansuasana seperti dulu lagi…"
   Lama aku berdoao kehadirat-Nya. Hingga kemudian aku tergerak untuk meraih pena dan secarik kertas merah muda dari diary kenanganku. Dan segala kegundahanku kutuangkan dalam oretan kolaborasi semua perasaaan dan asa.
  To: Istriku, Fia
   Istriku,…
  Sekarang aku sudah mulai asing dengan dirimu…
Kini kau bukan lagi Fia yang aku kenal di kampus kita dulu, 7 tahun yang silam. Jubah panjangmu yang dulu sering menyapu dedaunan dan ranting di halaman musholla kampus kita, sekarang sudah berubah menjadi blazer ketat nan modis.
 Cara berpakaianmu kini, lebih sering mengudik rasa risihku dari tatapan lelaki lain yang iseng menatap lekuk-lekuk tubuhmu.
 Istriku,…
Dulu bibirmu yang polos tanpa pulasan, sering berbicara santun tentang pentingnya muslimah menjagasikap, harga diri dan pergaulan.
 Bahkan bersolek atau sekedar alas bedak merupakan hal tabu bagimu, "kecuali untuk suamiku kelak…," katamu kala itu.
Kini kulihat, bibir itu sudah berganti-ganti warna setiap hari dengan sapuan koleksi gincu bermerk Yves Saint Laurent, Avon, L’oreal, atau entah apa lagi namanya. Bibir itu lebih lincah bercerita tentang pentingnya muslimah menjaga reputasi kerja, pencapaian target, keutuhan tim kerja dengan kolega, atau berbagai macam teori motivasi kerja dan organnisasi yang (minimal menurutku) kurang sreg untukmu. Istriku,…
  Wajah sederhana penuh ghiroh yang dulu sering kulihat menghiasi halaman musholla kampus dalam setia acara pembukaan pengajian, kini telah menjadi etalase odernitas denganpulasan bermacam-macam merk make up. Wajah berbingkai nw ew dearshioned itu sering terpajang manis di sela-sela seminar, workshop, sarasehan dan rapat-rapat kerja di berbagai hotel mewah. Wajah itu lebih seringa terlihat memancarkan semangatmu dalam mengejar target laporan kantor, sehingga kamu sering terlena dan melupakan indahnya lantunan adzan.
 Istriku,…
Deretan gigi putih diiringi senyum manismu saat bercengkrama dengan rekan akhwat de sela-sela rehat kuliah dahulu, sekarang sudah menjadi derail tawa lebar yang terlalu seringa menggema di segenap ruang kantormu. Bahkan dari sini pun,” aku masih bias mendengar derail tawamu dan kolega-kolegamuitu.
Istriku,…
Maafkan aku, kalau sekarang aku sudah mulai tidak mengenalmu lagi…
Bahkan setelah 10 tahun pernikahan kita,…
  Kegusaranku ini, tak lebih, hanya karena si kecil sekarang lebih banyak hapal beberapa bait lagu peterpan dari pada” beberapa ayat Al-Qut’an.
Kegelisahanku sekarang, tak bukan, adalah ketakutanku akan gilangnya momen-momen indah hidup kita dalam mendidik anak-anak kita.
  Kegundahanku saat ini, tak lain, adalah ketakutanku akan bualan angina duniawi yang mulai menerpa dan melenakan dirimu.
  Maafkan,… kalau aku sekarang (terlalu) takut sekali kehingan “dirimu”, yang dulu.
Itu saja…
Suamimu
Andree
Lama kupandangi oretan luapan emosiku. Kemudian aku beranjak untuk meraih amplop hijau muda di laci meja kerjaku. Kumasukkan tiga lembar surat tersebut kedalam amplop.
‘’Ya Allah…, aku sangat takut kehilangan dia. Aku sangat merindukan dia seperti dulu lagi. B erilah hidayah kepadanya. Tapi jika tidak , cintaku kepada-Mu lebih besar, Tuhanku… biarlah aku jatuh talak satu kepadanya. Tuhanku…, kuatkanlah aku…





2 komentar: