Siang itu, matahari
bersinar terik. Kemarau panjang yang berlangsung sekitar lima bulan, dengan angkuh membakar bumi.
Pohon-pohon banyak yang meranggas kekurangan air. Bunga-bunga yang menyejukkan
pandangan kini mulai layu. Dan deru mobil-mobil mewah tak tahu aturan melaju
begitu saja tanpa menoleh pada anak-anak jalanan yang sedang kehausan. Sebuah
kekejaman yang kembali menorehkan luka di hati si miskin-papa. Hingga
kesenjangan social yang terjadi, laksana jurang yang dalam di lereng gunung.
"Assalamu'alaikum…"
"Oh Dedy…,
good afternoon…"
Selalu itu…yang dia
ucapkan untuk menjawab salamku. Mengapa istriku sudah berubah demikian jauh,
padahal aku selalu protected untuk hal-hal modern yang tak sesuai dengan ajaran
dan budaya Islam. Kucoba untuk bersabar mendengar jawaban istriku untuk yang
kesekian kalinya, walaupun ingin rasanya aku marah. Ingin aku lontarkan semua
apa yang ada di dalam hatiku. Hingga akhirnya kata-kataku terlepas begitu saja…
"Emang nggak
ada yang lain untuk menjawab salamku?!"
Yach, mami hanya
ingin mengikuti perkembangan zaman saja, dedy…., mami melihat teman-teman mami
sesame istri pejabat setingkat dady kalau mengucapkan salam kepada suaminya
demikian. Jadi apa salahnya bila mami mencobanya pada papi…"
”But I don't want all are changed. No better
way than Islamic way, my darling. So please, don't continue what you have done
after this…"
"Ah udah… udah
…, masalah itu saja yang kamu permasalahkan. I think there is not something
wrong. And also there is not a principle problem."
Huh…, kurebahkan badanku di sofa ruang tamu.
Lama aku tengadahkan kepalaku pada langit-langit rumahku. Ada sesak menyeruak ke dalam dadaku mengingat
kejadian yang bara saja terjadi. Sebuah berbedaan kecil yang menurutku cukup
prinsipil. Namun entahlah sampai kapan ini semua akan berakhir…
Baru sakitar lima menit aku tenggelam dalam lamunanku,
terdengar langkah kaki istriku mendekat. Dengan berbalut blazer ketat berwarna
merah muda, depadu dengan jilbab transparan berwarna jingga dan celana kain
kitat yang nampak modis, perlahan mendekat menghampiriku.
"Abi…, aku ada meeting dengan kolega
bisbis. Aku pamit, mungkin sekitar jam sepuluh malam aku baru kembali."
Tertegun aku
mendengar ucapannya. Bukan karena permintaan izinnya yang memberatkan hatiku. Namun cara berpakaian
istriku sudah mulai asing dariku. Semakin jauh, hingga aku tak dapat
mengenalinya lagi. Belum sempat aku menjawab permintaan izinnya, kaki beralas
sepatu dengan hak tinggi itu, sudah menjauh dari hadapanku. Bunyi hak sepatu
yang beraturan seakan hentakkan jarum yan gyeratur menusuk-nusuk dagingku.
"Kreieeeeeet…", suara pintu rumahku
terdengar terbuka. Dan istriku mulai keluar sebelum ia mendengar jawabanku.
Semuanya telah berubah.
***
Tumpukan buku di
meja kerjaku berserakan tak terurusi. Catatan pinggir Goenawan Muhammad,
inspiratorku menulis nampak kumal, seperti buku sisa-sisa zaman Renaisanse.
Mushaf usang, hadiah dari istriku saat aku ulang tahun pertama setelah kita
menikah, selalu menjadi penghibur kekalutanku saat ini. Hingga mushaf setebal
tiga inci itu berubah menjadi lima
inci oleh deraian air maraku. Dipojok meja kerjaku, masih terpampang foto
belahan jiwaku, istriku. Foto saat pertama kali aku menaruh hati padanya, tujah
tahun yan gsilam. Namun foto itu kini telah berubah. Aku seperti tidak
mengenalnya lagi. Dna keterasinganku dengan orang yang aku cintai membuatku
pergi meninggalkan rumah. Aku jengah. Aku bosan. Sudah seminggu aku tidak
pulang ke rumah. Aku ingin mencari dan merenungkan, mengapa semuanya telah
berubah.
Lama kupandangi diary merah muda, tempat aku
menulis segudang obsesiku semenjak aku menikah. Sudah ribuan kata-kata tertuang
di dalamnya. Mulai assa indahnya bulan madu dengan istriku, berangan-angan
memiliki anak selusin sampai pertengkaran kecil yan gterjadi antara aku dan
dirinya. Hingga kemudian seperti ada kekuatan yan gmendorongku untuk meraih dan
membacanya kembali. Lembar demi lembar kubuka catatan harianku. Hiingga
tatapanku terpaku pada tulisan berwarna biru di tahun kedua aku menikah:
Jakarta,
15 Mei 2007
Tuhan,…
Keadilan-Mu kembali
hadir di bahtera rumah tangga kami…
Walaupun hanya
makan berlauk temped an sayur lodeh buatan istriku yang terkadang rasanya
terlalu asin, namun ada kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri hidup
didampinginya. Berapapun uang belanja yang aku berikan kepadanya, ia terima
dengan senyuman. Terima kasih tuha, kau telah anugrahkan kepadaku istri sebaik
dia…
Namun setelahmakan malam, demalam yang sedang
hujan gerimis itu, sambil memijit punggungku yang kelelahan bekerja, dengan
manja ia berkata padaku…
"Abi, jubahku udah mulai kekecilan untuk
ukuran tubuhku. Sekarang saja sudah sampai mata kakiku. Dan juga, jilbabku
sudah robek diatasnya. Kalau Abi diberikan rizki lebih oleh Allah, aku
dibelikan jubah dan jilbab yang baru ya…"
Mendengar kata-katanya yan gterakhir ini,
hatiku seakan menjerit
"Oh Tuhan
berikan aku kemampuan untuk membahagiakannya…"
Buliran air mataku
menitik, membentuk lingkaran noktah di diaryku…
Bayanganku tenggelam menuju lima tahun yang silam. Saat itu, setelahkami
sama-sama diwisuda, kami mencoba untuk hidup mandiri membina bahtera rumah
tangga. Walaupun hanya menempati rumah kpntrakan ukuran 5 x 8, namun ditemani
istri yang sholihah, rasanya rumah seukuran tersebut merupakan villa mewah di
tengah taman nan indah.
Namun setelah semuanya berubah. Setelah aku
menjadi salah satu anggota legislative propinsi Jawa Barat, setelah dia juga
menjadi istri pejabat yang juga harus bergaul dengan sesame istri pejabat,
semuanya telah berubah. Hingga aku merindukan kembali saat-saat seperti dulu
lagi, bahkan seperti ketika kita menempati gubuk ukuran 5 x 8. aku sangat merindukan kembalinya jubah dan jilbab
yang selalu menyejukkan bila kupandang, walaupun warnanya telah pudar. Aku merindukan
tetesan-tetesan embun pagi pada kelopak mawar merah yang sedang merekah
dipanasnya terik matahari. Tuhan aku sangat merindukan saat-saat tersebut.
Suara adzan dzuhur menggema membuyarkan
lamunanku. Takterasa sudah tiga jam aku duduk merenungi saat-saat indah bersama
istriku dulu. Bergegas aku menuju kamar mandi apartement yang aku tempati.
Guyuran air wudhu' menyapu mukaku meruntuhkan dosa-dosa yan gsiang tadi hinggap
di pelupuk mataku. Aku bersimpuh di hadapan tuhanku, kupanjatkan doa "Oh
Tuhan…, aku merindukansuasana seperti dulu lagi…"
Lama aku berdoao kehadirat-Nya. Hingga
kemudian aku tergerak untuk meraih pena dan secarik kertas merah muda dari
diary kenanganku. Dan segala kegundahanku kutuangkan dalam oretan kolaborasi
semua perasaaan dan asa.
To:
Istriku, Fia
Istriku,…
Sekarang aku sudah mulai asing dengan dirimu…
Kini kau bukan lagi
Fia yang aku kenal di kampus kita dulu, 7 tahun yang silam. Jubah panjangmu
yang dulu sering menyapu dedaunan dan ranting di halaman musholla kampus kita,
sekarang sudah berubah menjadi blazer ketat nan modis.
Cara berpakaianmu kini, lebih sering mengudik
rasa risihku dari tatapan lelaki lain yang iseng menatap lekuk-lekuk tubuhmu.
Istriku,…
Dulu bibirmu yang
polos tanpa pulasan, sering berbicara santun tentang pentingnya muslimah
menjagasikap, harga diri dan pergaulan.
Bahkan bersolek atau sekedar alas bedak
merupakan hal tabu bagimu, "kecuali untuk suamiku kelak…," katamu
kala itu.
Kini kulihat, bibir
itu sudah berganti-ganti warna setiap hari dengan sapuan koleksi gincu bermerk
Yves Saint Laurent, Avon, L’oreal, atau entah
apa lagi namanya. Bibir itu lebih lincah bercerita tentang pentingnya muslimah
menjaga reputasi kerja, pencapaian target, keutuhan tim kerja dengan kolega,
atau berbagai macam teori motivasi kerja dan organnisasi yang (minimal
menurutku) kurang sreg untukmu. Istriku,…
Wajah sederhana penuh ghiroh yang dulu sering
kulihat menghiasi halaman musholla kampus dalam setia acara pembukaan
pengajian, kini telah menjadi etalase odernitas denganpulasan bermacam-macam
merk make up. Wajah berbingkai nw ew dearshioned itu sering terpajang manis di
sela-sela seminar, workshop, sarasehan dan rapat-rapat kerja di berbagai hotel
mewah. Wajah itu lebih seringa terlihat memancarkan semangatmu dalam mengejar
target laporan kantor, sehingga kamu sering terlena dan melupakan indahnya
lantunan adzan.
Istriku,…
Deretan gigi putih
diiringi senyum manismu saat bercengkrama dengan rekan akhwat de sela-sela
rehat kuliah dahulu, sekarang sudah menjadi derail tawa lebar yang terlalu
seringa menggema di segenap ruang kantormu. Bahkan dari sini pun,” aku masih
bias mendengar derail tawamu dan kolega-kolegamuitu.
Istriku,…
Maafkan aku, kalau
sekarang aku sudah mulai tidak mengenalmu lagi…
Bahkan setelah 10
tahun pernikahan kita,…
Kegusaranku ini, tak lebih, hanya karena si
kecil sekarang lebih banyak hapal beberapa bait lagu peterpan dari pada”
beberapa ayat Al-Qut’an.
Kegelisahanku
sekarang, tak bukan, adalah ketakutanku akan gilangnya momen-momen indah hidup kita
dalam mendidik anak-anak kita.
Kegundahanku saat ini, tak lain, adalah
ketakutanku akan bualan angina duniawi yang mulai menerpa dan melenakan dirimu.
Maafkan,… kalau aku sekarang (terlalu) takut
sekali kehingan “dirimu”, yang dulu.
Itu saja…
Suamimu
Andree
Lama kupandangi
oretan luapan emosiku. Kemudian aku beranjak untuk meraih amplop hijau muda di
laci meja kerjaku. Kumasukkan tiga lembar surat
tersebut kedalam amplop.
‘’Ya Allah…, aku
sangat takut kehilangan dia. Aku sangat merindukan dia seperti dulu lagi. B
erilah hidayah kepadanya. Tapi jika tidak , cintaku kepada-Mu lebih besar,
Tuhanku… biarlah aku jatuh talak satu kepadanya. Tuhanku…, kuatkanlah aku…
mantao
BalasHapusharus donk,,,,,heee
Hapus